Photo: Ank kumar via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Man City 'Sham FC'? Ini Realita di Balik 115 Dakwaan
Julukan 'Sham FC' untuk Manchester City terdengar memuaskan bagi siapa pun yang muak dengan dominasi mereka sejak diakuisisi Abu Dhabi. Tapi ada jarak besar antara kemarahan yang wajar dan apa yang benar-benar bisa dijatuhkan oleh proses hukum Premier League terhadap 115 dakwaan yang belum terbukti.
Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja
Dakwaannya memang sebesar itu
Tidak perlu melebih-lebihkan untuk menyebut kasus ini sebagai yang terbesar dalam sejarah Premier League. Manchester City menghadapi lebih dari seratus dakwaan pelanggaran aturan finansial yang membentang hampir satu dekade, mencakup dugaan ketidakakuratan dalam laporan keuangan, sponsorship, dan gaji pelatih. Javier Tebas, presiden LaLiga yang selama bertahun-tahun paling vokal menuduh City merusak keseimbangan kompetitif Eropa, langsung bersuara begitu angka itu terkonfirmasi. Ini kasus dengan skala yang belum pernah dilihat liga Inggris sebelumnya.
Tapi City bukan Juventus 2006
Perbandingan dengan Calciopoli selalu muncul, tapi perbandingannya cacat. Skandal Juventus melibatkan bukti percakapan telepon yang secara eksplisit menunjukkan upaya memengaruhi penunjukan wasit, sesuatu yang langsung menyentuh integritas hasil pertandingan. Kasus City adalah soal regulasi finansial, bagaimana klub melaporkan uang yang masuk dan siapa yang sebenarnya membayarnya. Serius, tapi kategori pelanggarannya berbeda. Hukuman yang pantas untuk manipulasi wasit dan hukuman yang pantas untuk dugaan pelanggaran Financial Fair Play tidak otomatis sama beratnya, meski keduanya merusak kepercayaan publik terhadap kompetisi.
Kenapa mencabut delapan gelar itu fantasi, bukan rencana
Ide mencabut kedelapan gelar Liga Primer yang dimenangkan City sejak era Abu Dhabi terdengar seperti keadilan yang pas: hukum klubnya sesuai skala dugaan kecurangannya. Tapi sepak bola Inggris tidak punya mekanisme yang pernah benar-benar melakukan itu pada skala ini. Panel independen yang menyidangkan kasus ini bekerja berdasarkan aturan Premier League sendiri, dan hukuman ekstrem seperti pencabutan gelar massal atau degradasi otomatis bukan sesuatu yang pernah diterapkan bahkan pada kasus finansial paling berat sekalipun di Inggris. Ada jarak sangat jauh antara apa yang diinginkan publik yang geram dan apa yang secara realistis bisa dijatuhkan oleh proses ini.
City juga tidak kooperatif seperti Chelsea
Salah satu alasan opini publik begitu keras terhadap City adalah sikap klub itu sendiri. Ketika Chelsea menghadapi masalah serupa terkait pelanggaran finansial di era Roman Abramovich, klub itu memilih jalan kooperatif, melaporkan sendiri temuan internal dan menerima denda. City melakukan sebaliknya. Alih-alih bernegosiasi, para petinggi klub terus menegaskan keyakinan mereka bahwa mereka tidak bersalah sama sekali, menyiapkan pembelaan hukum penuh terhadap seluruh 115 dakwaan. Sikap ini memperkuat citra 'Sham FC' di mata publik, tapi secara hukum itu hak mereka, dan itu juga berarti proses ini bisa berlarut-larut selama bertahun-tahun sebelum ada keputusan final.
Jadi, apakah kasus ini sudah selesai untuk City?
Belum, dan siapa pun yang melompat dari 'sedang diselidiki' ke 'harus degradasi, gelar dicabut, klub direset total' mengabaikan bagaimana sepak bola Inggris sebenarnya menangani kasus semacam ini. Dakwaan bukan vonis. Bahkan jika panel menemukan City bersalah atas sebagian besar dari 115 dakwaan itu, hukuman yang realistis kemungkinan besar berupa denda besar, pengurangan poin, atau larangan transfer, bukan pencabutan trofi retroaktif yang akan membuka kotak Pandora hukum yang tidak pernah disiapkan Premier League untuk dibuka.
Jadi apa hukuman yang pantas?
Jika terbukti bersalah dalam skala sebesar yang didakwakan, City pantas menerima hukuman terberat yang pernah dijatuhkan liga ini, bukan karena publik menuntutnya, tapi karena skala dugaan pelanggarannya memang tidak ada bandingannya. Itu berarti denda yang jauh lebih besar dari kasus Everton atau Nottingham Forest, kemungkinan pengurangan poin signifikan, dan sanksi transfer jangka panjang. Tapi menuntut degradasi otomatis atau pencabutan delapan gelar sekaligus adalah fantasi balas dendam yang tidak didukung oleh preseden atau kerangka hukum yang ada. Kemarahan terhadap City wajar. Berharap sistem menjatuhkan hukuman yang sistem itu sendiri tidak dirancang untuk menjatuhkannya, tidak.
Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.
Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.
Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.


Comments
Loading comments…