
Argentina sudah di semifinal Piala Dunia 2026. Tapi kalau kamu pikir perjalanan mereka ke sana mulus — dua kali extra time dalam tiga laga knockout bilang sebaliknya.
Sebagai juara bertahan, Argentina datang ke Piala Dunia 2026 di Amerika Utara dengan satu misi sederhana: pertahankan trofi. Tapi sepak bola tidak pernah semudah narasi. Dari tiga laga fase gugur yang sudah mereka jalani, dua di antaranya tidak selesai dalam 90 menit — lawan-lawan mereka memaksa pertandingan masuk ke babak tambahan sebelum La Albiceleste akhirnya menemukan cara untuk menang.
Menurut laporan detikSport, pola ini sudah menjadi semacam tanda tangan Argentina di fase knockout turnamen ini. Bukan kemenangan bersih. Bukan dominasi. Melainkan pertarungan melelahkan yang baru terpecahkan di menit-menit terakhir extra time.
Dua pembacaan bisa dilakukan dari fakta ini — dan keduanya sama-sama masuk akal.
Versi pertama: Argentina sedang tidak dalam kondisi terbaik. Lini serang mereka tidak cukup tajam untuk menutup laga lebih awal, pertahanan mereka rentan ditekan, dan kebutuhan berulang akan extra time menguras tenaga fisik yang tidak bisa digantikan begitu saja. Di level Piala Dunia, kaki yang lelah membuat keputusan buruk.
Versi kedua: ini adalah tim yang tahu cara menang ketika harus menang. Juara tidak selalu menang cantik — mereka menang di momen yang paling penting. Argentina sudah dua kali masuk ke extra time, dan dua kali mereka keluar sebagai pemenang. Ada sesuatu yang tidak bisa diajarkan dari pengalaman seperti itu.
Tim Lionel Scaloni, bagaimanapun, tidak bisa sepenuhnya bersembunyi di balik narasi ketangguhan itu.
Semifinalis Piala Dunia tidak datang untuk mengalah. Siapapun lawan Argentina berikutnya, mereka tidak akan memberi ruang untuk Argentina bermain di bawah kapasitas terbaik mereka — dan dua laga extra time berturut-turut adalah beban fisik yang nyata, bukan sekadar statistik.
Pemain-pemain kunci Argentina sudah menanggung beban menit yang berat. Rotasi skuad di fase grup mungkin sudah memberikan sedikit ruang napas, tapi extra time tidak bisa direncanakan — dan efeknya terasa di sesi latihan, di ruang ganti, dan di menit-menit akhir pertandingan berikutnya.
Argentina memang sudah di semifinal. Pertanyaannya bukan apakah mereka bisa sampai sejauh ini — pertanyaannya adalah: apakah kaki mereka masih punya cukup untuk dua laga lagi?
Dua kali extra time, dua kali menang. Tapi di turnamen ini, tidak ada laga ketiga yang akan memberi mereka kemewahan yang sama.
Argentina sudah di semifinal Piala Dunia 2026. Tapi kalau kamu pikir perjalanan mereka ke sana mulus — dua kali extra time dalam tiga laga knockout bilang sebaliknya.
Bronnen
detikSport
Flagside-artikelen zijn originele stukken samengesteld uit meerdere bronnen. We citeren elke outlet die in het stuk verwerkt is.
Hoogtepunten van de nacht, wat de transfermarkt doet, en het ene stuk dat je vandaag moet lezen. Geen ads. Geen tips. Geen operators.
Eenmalig afmelden. We delen je e-mailadres niet.
“Stays on Argentina — different angle, same beat.”
INTArgentina are in the last four of the 2026 World Cup. That sentence should read as triumph. Instead, according to Foot Mercato, it comes with a quiet but growing question mark over the man who deliver
“Stays on Argentina — different angle, same beat.”
INTArgentina are in the last four of the 2026 World Cup. That sentence should read as triumph. Instead, according to Foot Mercato, it comes with a quiet but growing question mark over the man who deliver