
Setiap kali Inggris dan Argentina berbagi lapangan di Piala Dunia, sejarah tidak hanya tertulis — ia diukir dalam. Kini, di semifinal Piala Dunia 2026, dua bangsa itu berhadapan lagi, dan pertanyaannya bukan sekadar siapa yang menang — melainkan momen apa yang akan lahir kali ini.
Semua jalan menuju satu nama: Diego Maradona. Meksiko, 22 Juni 1986 — Stadion Azteca, 114.000 penonton, dan dua gol dalam satu babak kedua yang mengubah cara dunia memandang sepak bola selamanya. Tangan Tuhan yang licik, lalu Goal of the Century yang megah — keduanya dari kaki dan tangan orang yang sama, dalam pertandingan yang sama, melawan lawan yang sama. Inggris pulang tanpa trofi dan dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh hingga hari ini.
Itulah beban yang selalu dibawa Inggris setiap kali nama Argentina disebut di konteks Piala Dunia. Bukan sekadar kekalahan — melainkan kekalahan yang terasa seperti ketidakadilan kosmis, diikuti oleh kejeniusan yang tidak bisa disangkal. Kombinasi paling menyakitkan dalam olahraga.
Dua belas tahun kemudian, Saint-Étienne. Babak 16 besar, 1998. David Beckham — saat itu masih pemuda Manchester United berusia 23 tahun yang sedang naik daun — menerima kartu merah setelah tendangan kecil ke arah Diego Simeone. Inggris bermain dengan sepuluh orang, kalah adu penalti, dan Beckham menjadi kambing hitam nasional selama berbulan-bulan.
Simeone, tentu saja, sudah lama mengakui bahwa ia sedikit membantu wasit mengambil keputusan itu. Tidak ada yang terkejut. Tapi itulah Argentina vs Inggris — selalu ada lapisan di balik lapisan, selalu ada cerita di balik cerita.
Menurut laporan detikSport, kedua tim bertemu di semifinal Piala Dunia 2026 — turnamen yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Belum ada konfirmasi resmi soal hasil pertandingan dari sumber kedua, tapi fakta bahwa pertemuan ini terjadi di fase empat besar sudah cukup untuk membuat jantung berdegup lebih kencang dari biasanya.
Generasi yang bermain di 2026 tidak hidup di era Maradona. Mereka tidak merasakan Saint-Étienne. Tapi rivalitas tidak butuh ingatan langsung untuk terasa berat — ia diwariskan, diceritakan ulang, dan hidup dalam cara seorang pelatih berbicara kepada pemainnya di ruang ganti sebelum peluit pertama.
Inggris vs Argentina bukan sekadar dua tim bagus yang kebetulan sering bertemu. Ini adalah dua identitas nasional yang saling berbenturan — dengan sejarah geopolitik, dengan narasi pahlawan dan penjahat yang berganti-ganti tergantung dari mana kamu berdiri, dan dengan momen-momen yang sudah masuk ke dalam kosakata sepak bola global.
Di Indonesia, di mana Piala Dunia selalu ditonton dengan gairah yang melampaui sekadar olahraga, pertandingan seperti ini adalah alasan kenapa seseorang rela begadang sampai pukul tiga pagi. Bukan karena ada pemain lokal di lapangan — tapi karena ada sesuatu yang terasa lebih besar dari sekadar bola.
Dan itulah yang membuat semifinal ini beda: sejarahnya sudah berat sebelum kick-off. Apapun yang terjadi di lapangan, ia akan ditambahkan ke dalam daftar panjang momen yang tidak akan dilupakan.
Setiap kali Inggris dan Argentina berbagi lapangan di Piala Dunia, sejarah tidak hanya tertulis — ia diukir dalam. Kini, di semifinal Piala Dunia 2026, dua bangsa itu berhadapan lagi, dan pertanyaannya bukan sekadar…
Fuentes
detikSport
Los artículos de Flagside son redacciones originales sintetizadas de múltiples fuentes. Citamos cada medio que alimentó la pieza.
Lo mejor de los partidos de la noche, qué está haciendo la ventana de traspasos, y la columna que debes leer hoy. Sin anuncios. Sin pronósticos. Sin operadores.
Desuscripción con un clic. No compartimos emails.
“Stays on Argentina — different angle, same beat.”
SELECCIONESSelama dua dekade, para penggemar sepak bola menunggu pertemuan yang seharusnya sudah terjadi berkali-kali. Lionel Messi, pemain terbaik yang pernah ada di planet ini, belum pernah sekalipun berhadapa
“Stays on Argentina — different angle, same beat.”
SELECCIONESSelama dua dekade, para penggemar sepak bola menunggu pertemuan yang seharusnya sudah terjadi berkali-kali. Lionel Messi, pemain terbaik yang pernah ada di planet ini, belum pernah sekalipun berhadapa