
Main Stand Brunton Park yang kosong, kandang Carlisle United, difoto pada 2007 — delapan tahun setelah peristiwa itu.
Gol Glass, Legenda yang Masih Diperdebatkan
Pada 8 Mei 1999, kiper pinjaman bernama Jimmy Glass mencetak gol yang membuat Carlisle United tetap berada di Football League. Sebagian besar versi yang beredar selama ini benar. Sebagian lagi tidak—dan bagian yang paling menarik justru yang paling jarang diceritakan.
Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja
Carlisle United memasuki hari terakhir musim 1998-99 di posisi paling bawah seluruh Football League. Scarborough berada satu poin di atas mereka di posisi ke-23. Hanya satu klub yang akan turun dari Third Division ke Conference musim itu.
Scarborough bermain lebih awal siang itu, di kandang melawan Peterborough United. Mereka imbang 1-1. Artinya Carlisle harus menang—bukan sekadar imbang.
Ini bagian yang paling sering luput dari cerita: klasemen Third Division dipisahkan oleh poin, lalu oleh gol yang dicetak, baru kemudian selisih gol. Andai Carlisle imbang, mereka akan berakhir dengan 42 gol, sementara Scarborough sudah mencetak 50. Scarborough yang akan selamat. Kemenangan adalah satu-satunya jalan.
James Robert Glass lahir 1 Agustus 1973 di Epsom. Ia berusia 25 tahun dan milik Swindon Town di First Division, tapi tidak masuk skuad utama dan berselisih dengan pelatih Jimmy Quinn. Carlisle sendiri sudah menjual kiper utama mereka, Tony Caig, ke Blackpool pada deadline day transfer bulan Maret 1999—keputusan yang dikaitkan dengan pemilik klub, Michael Knighton. Kiper kedua cedera. Kiper pinjaman berikutnya, Richard Knight dari Derby County, ditarik kembali oleh Derby, meninggalkan manajer Nigel Pearson tanpa kiper untuk tiga laga terakhir.
Quinn menelepon Pearson dan menawarkan Glass. Dibutuhkan izin khusus dari Football League karena deadline transfer sudah lewat. Pearson menerima. Tiga minggu sebelumnya, ia belum pernah mendengar nama Glass.
Glass sendiri berkata kepada Independent pada hari pertandingan: "When I was asked to come here I didn't know what position they were in. When I found out I nearly turned round and went home again." (Ketika diminta datang ke sini, saya tidak tahu posisi mereka di klasemen. Begitu tahu, saya hampir balik badan dan pulang.)
Glass memainkan tiga laga terakhir musim itu. Laga Plymouth adalah yang ketiga.
Lee Phillips membawa Plymouth unggul pada menit ke-49—gol pertamanya di Football League, ia baru berusia 18 tahun. David Brightwell menyamakan kedudukan pada menit ke-62 lewat tembakan jarak jauh. Empat menit tambahan waktu diumumkan pada menit ke-90. Penyiar stadion, Colin Carter, menyuarakan lewat pengeras suara: "Carlisle, we have got four minutes to save our football club."
Kemudian datang sudut.
Glass sudah mulai berlari ke depan sebelum Pearson melambai ke arahnya. Pearson berkata pada hari yang sama: "He had started to go up for the corner before I waved him forward." Graham Anthony mengambil tendangan sudut dari sisi kanan. Scott Dobie menyambut dengan sundulan ke tiang dekat. Kiper Plymouth, James Dungey, berhasil menghalau. Bola jatuh di kaki Glass di dalam kotak enam yard, tanpa pemain lain di dekatnya. Ia menyepak bola dengan kaki kanan, keras dan mendatar, ke dalam gawang.
Menit berapa tepatnya? Di sinilah catatan 1999 tidak sepakat. BBC menyebut menit ke-94, dan empat menit ke dalam injury time. Laporan pertandingan Guardian menempatkan gol itu satu menit setelah peluang di menit ke-93—juga menunjuk ke menit ke-94. Independent on Sunday menulis menit ke-95 di judul, dan menit kelima injury time di teks berita. Panel statistik Independent sendiri mencatat angka bulat: 90. Angka yang paling banyak didukung adalah menit ke-94, tapi laporan-laporan sezaman tidak sepakat.
Apa yang terjadi setelahnya juga diperdebatkan dalam pers 1999 itu sendiri. Independent melaporkan bahwa setelah penonton kembali ke tribun, Plymouth sempat melakukan kick-off sebelum wasit Frazer Stretton meniup peluit akhir. Independent on Sunday menyebut ada jeda sekitar tiga menit untuk mengosongkan lapangan, dan peluit berbunyi begitu permainan dilanjutkan. Tapi laporan pertandingan Guardian, terbit 10 Mei 1999, menyatakan dengan tegas bahwa itu adalah tendangan terakhir musim itu. Observer memilih kata "virtually the last kick"—hampir tendangan terakhir. Legenda dan catatan prosedural muncul bersamaan, akhir pekan yang sama, di koran yang berbeda.
Glass terkena lutut di wajah saat penonton menyerbu lapangan. Hidungnya berdarah. Ia berkata kepada Independent: "My first thought after I scored was: Oh my God, I'm about to get 2,000 people on top of me. Then someone whacked me in the face and I got a nose bleed."
Malam itu kepala pencari bakat Carlisle, Martin Wilkinson, memberitahu Glass bahwa klub ingin mempertahankannya. Tapi Swindon meminta 20.000 pound dan Knighton tidak mau membayar gajinya. Tidak ada tawaran yang masuk. Pearson dipecat tak lama setelah musim berakhir.
Glass bermain sekitar dua tahun lagi—Brentford, Oxford United, Crawley—sebelum meninggalkan sepak bola profesional di usia 27. Ia menjual komputer selama dua setengah tahun, lalu mengemudikan taksi di Dorset, dan akhirnya memiliki perusahaan taksi itu sendiri. Ia kembali ke sepak bola pada 2011 sebagai pelatih kiper sukarela, bergabung dengan Bournemouth pada 2016 sebagai petugas penghubung pemain, dan sejak Juli 2023 menjabat sebagai manajer umum Wimborne Town. Sepatu yang ia pakai saat mencetak gol itu disumbangkan ke National Football Museum pada 2014.
Tentang gol itu, Glass berkata kepada Sky Sports: "It wasn't my goal. It was football's goal really." (Itu bukan gol saya. Itu benar-benar gol sepak bola.)
Ia pernah bertanya kepada penyiar Rodney Marsh apakah dirinya seorang legenda. Menurut Glass, Marsh menjawab: "No, you're not a legend, Jimmy, but your goal is legendary." Glass setuju dengan perbedaan itu, dan terus mengulangnya.
Carlisle telah menjadi anggota Football League sejak terpilih masuk pada 1928—71 tahun keanggotaan yang hampir berakhir pada sore itu.
Sumber4 sumber
The Independent, Sky Sports, FourFourTwo, Photo: Jameboy via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
- [1] https://www.independent.co.uk/sport/football-carlisle-raise-a-glass-to-survival-carlisle-united-2-plymouth-argyle-1-1092696.html
- [2] https://www.skysports.com/football/news/11095/11707871/jimmy-glass-the-great-escape
- [3] https://www.fourfourtwo.com/features/jimmy-glass-after-football-no-matter-how-bad-things-got-i-never-wished-carlisle-goal-hadnt
- [4] https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Brunton_Park_Main_Stand.jpg
Kami menyebutkan dan menautkan setiap media yang menjadi dasar artikel ini, dan menulis ulang liputan mereka dengan kata-kata kami sendiri, bukan menyalinnya.
Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.
Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.
Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.

Comments
Loading comments…