Flagside.football
Gol Hantu Kiessling: Wasit, Penyerang, dan Satu Keputusan yang Wajar

Rhein-Neckar-Arena di Sinsheim, kandang 1899 Hoffenheim, tempat berlangsungnya pertandingan melawan Bayer Leverkusen pada 18 Oktober 2013.

Gol Hantu Kiessling: Wasit, Penyerang, dan Satu Keputusan yang Wajar

Pada 18 Oktober 2013, sebuah header meleset dari tiang, masuk melalui lubang di jaring samping, dan dihitung sebagai gol. Tiga orang membuat keputusan yang masuk akal. Hasilnya tetap berdiri.

Redaksi Flagside·Dipublikasikan ·2 MENIT BACA

Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja

Menit ke-70 di Rhein-Neckar-Arena, Sinsheim. Stefan Kiessling menyambut sebuah tendangan sudut dengan sundulan di tiang dekat. Bola meleset dari tiang, menghantam sisi luar jaring, lalu masuk ke dalam gawang melalui sebuah lubang di jaring samping. Wasit Dr. Felix Brych mengangkat tangannya dan mengesahkan gol itu.

Brych tidak mengklaim melihatnya dengan jelas. Itulah inti dari seluruh cerita ini. Setelah pertandingan, ia menjelaskan: "Ich hatte einen leichten Zweifel, aber die Reaktion der Spieler war eindeutig. Niemand hat mir gesagt, dass der Ball nicht reingegangen ist." (Saya memiliki sedikit keraguan, tetapi reaksi para pemain sangat jelas. Tidak ada yang memberitahu saya bahwa bola tidak masuk.) Brych menambahkan: "Für mich ist es keine tolle Situation, ein Tor gegeben zu haben, das nicht existiert." (Bagi saya, ini bukan situasi yang menyenangkan, telah mengesahkan gol yang tidak ada.)

Keputusan itu bukan didasarkan pada apa yang dilihat Brych secara langsung. Keputusan itu didasarkan pada apa yang tidak dikatakan siapa pun kepadanya.

Gol tersebut membuat skor menjadi 2-0 untuk Bayer Leverkusen. Pertandingan berakhir 2-1. Tanpa gol itu, kedudukan akhir adalah 1-1.

Yang jarang diceritakan adalah apa yang dilakukan Kiessling setelahnya. Ia membuka akun Facebook-nya dan menulis sendiri. "I can fully understand the reactions from many of you and I myself am absolutely gutted," tulisnya. "After seeing the replays on television, I can clearly see that it was not a legitimate goal."

Seorang pencetak gol yang secara terbuka menolak golnya sendiri adalah elemen paling langka dalam cerita ini. Kiessling tidak menunggu diminta. Ia tidak menyembunyikan diri di balik keputusan wasit.

1899 Hoffenheim mengajukan protes dan meminta pertandingan diulang. Direktur olahraga Alexander Rosen menyebutnya "skandal". Pelatih Markus Gisdol punya alasan untuk berharap. Ia mengacu pada preseden nyata: sebuah gol hantu di Bundesliga sebelumnya telah berujung pada pertandingan ulang. "It's definitely bitter for us and something like this has already happened once, and that game was replayed so I think we're going to see this game again," kata Gisdol.

Logika Gisdol masuk akal. Preseden itu ada. Namun kasus ini berjalan berbeda.

Pada 28 Oktober 2013, Pengadilan Olahraga DFB di Frankfurt menggelar sidang selama sekitar 90 menit. Protes Hoffenheim ditolak. Hasil pertandingan tetap berdiri. Ketua majelis, Hakim Hans E. Lorenz, menyatakan mereka tidak punya "alternatif lain" selain menegakkan hasil asli.

Alasannya bukan soal lubang di jaring. Alasannya adalah bahwa Brych tidak pernah melanggar aturan. Seorang wasit yang membuat kesalahan faktual dalam batas kewenangannya tidak melanggar hukum permainan — dan itulah yang membedakan kasus ini dari preseden yang diharapkan Gisdol. Hoffenheim diberi waktu satu minggu untuk mengajukan banding lebih lanjut.

Bundesliga saat itu tidak menggunakan teknologi garis gawang, sementara kompetisi lain sudah. Gol ini memperkeruh perdebatan yang memang sudah berjalan. Hoffenheim sendiri kemudian menyebut gol ini sebagai pemicu diadopsinya teknologi tersebut — namun itu adalah framing klub, bukan fakta yang berdiri sendiri.

Tiga orang. Tiga keputusan yang wajar. Brych bertindak berdasarkan reaksi pemain karena tidak ada yang memberitahunya. Kiessling mengakui apa yang ia lihat di tayangan ulang. Rosen dan Gisdol menempuh jalur hukum yang tersedia. Tidak ada yang bertindak di luar nalar. Hasilnya tetap 2-1.

Comments

Loading comments…

Share this story

Pada 18 Oktober 2013, sebuah header meleset dari tiang, masuk melalui lubang di jaring samping, dan dihitung sebagai gol. Tiga orang membuat keputusan yang masuk akal. Hasilnya tetap berdiri.

Sumber6 sumber

Kami menyebutkan dan menautkan setiap media yang menjadi dasar artikel ini, dan menulis ulang liputan mereka dengan kata-kata kami sendiri, bukan menyalinnya.

BRIEF PAGI

Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.

Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.

Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.