Photo: Fandy Aprianto Rohman via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
Poin klub taruhannya kalau suporter anarkis
Selama ini klub di Indonesia cukup kena denda kalau suporternya bikin onar di tribun. Sekarang PSSI mau mengubah itu jadi sesuatu yang benar-benar menyakitkan di papan klasemen, dan I.League sudah bilang: setuju.
Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja
Usulan ini datang langsung dari ketua umum PSSI, Erick Thohir, yang ingin klub-klub Liga 1 dan I.League menanggung konsekuensi sporting, bukan cuma finansial, kalau suporternya berulah anarkis di stadion. I.League, sebagai operator kompetisi kasta kedua, sudah menyatakan dukungan terbuka terhadap ide tersebut.
Selama ini pola hukumannya itu-itu saja: denda, laga tanpa penonton, paling berat larangan bermain di kandang sementara waktu. Buat klub besar dengan suporter fanatik, denda sering dianggap ongkos rutin, bukan hukuman yang bikin jera. Pengurangan poin mengubah kalkulasi itu total: ini menyentuh langsung target klub di klasemen, promosi, degradasi, bahkan tiket kompetisi Asia.
Belum ada skala, belum ada aturan main
Yang perlu digarisbawahi, ini masih sebatas usulan yang didukung, bukan regulasi yang sudah berjalan. Belum ada kejelasan soal berapa poin yang akan dipotong, pelanggaran seperti apa yang masuk kategori 'anarkis', atau mekanisme banding buat klub yang merasa suporternya jadi korban provokasi, bukan pelaku. Detail soal kapan aturan ini mulai berlaku pun belum diumumkan.
Pertanyaan paling krusial justru soal definisi. Lempar botol ke lapangan beda level dengan bentrok massal di luar stadion, tapi kalau keduanya dianggap 'anarkis' dengan hukuman yang sama, klub-klub berhak protes soal proporsionalitas.
Klub di posisi sulit
Bagi manajemen klub, ini artinya keamanan suporter bukan lagi urusan panitia pelaksana semata, melainkan bagian dari strategi menjaga poin. Klub yang punya basis suporter besar dan militan otomatis menanggung risiko lebih tinggi dibanding klub dengan tribun yang lebih tenang, meski keduanya sama-sama berkompetisi di liga yang sama.
Di sisi lain, kelompok suporter berisiko dijadikan kambing hitam kalau insiden dipicu oleh provokator yang tidak terafiliasi resmi dengan klub. Tanpa definisi yang jelas soal siapa yang dianggap mewakili suatu klub, sanksi poin bisa memicu ketegangan baru antara manajemen dan basis suporter, bukan cuma mengurangi kerusuhan.
Sejauh ini belum ada pernyataan terbuka dari klub-klub Liga 1 maupun kelompok suporter besar soal usulan ini. PSSI dan I.League tampaknya baru pada tahap membangun dukungan awal sebelum proposal ini masuk ke pembahasan regulasi yang lebih formal.
Apakah pengurangan poin bisa benar-benar menghentikan kerusuhan suporter?
Sumber1 sumber
Kami menyebutkan dan menautkan setiap media yang menjadi dasar artikel ini, dan menulis ulang liputan mereka dengan kata-kata kami sendiri, bukan menyalinnya.
Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.
Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.
Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.



Comments
Loading comments…