Photo: User:Responsible? via Wikimedia Commons (Public domain)
Michael Owen dan Warisan Kebencian di Setiap Klub Lamanya
Ada pemain yang tidak disukai satu atau dua klub lamanya. Michael Owen berhasil melakukannya di hampir setiap tempat yang pernah ia singgahi. Ada pola yang sangat jelas di baliknya, dan polanya berulang di setiap klub.
Awal yang Menjanjikan, Akhir yang Pahit di Liverpool
Owen memulai karier profesionalnya di Liverpool dan sempat menjadi salah satu penyerang paling mematikan di Eropa. Ia mencetak gol-gol penting untuk The Reds, termasuk gol ikonik saat Piala Dunia 1998 melawan Argentina yang membuat namanya dikenal dunia. Namun cara ia meninggalkan Liverpool adalah akar dari segalanya.
Owen pergi ke Real Madrid setelah Euro 2004, meninggalkan klub yang telah membesarkannya setelah kontraknya habis tanpa perpanjangan. Bagi sebagian besar suporter Liverpool, itu sudah cukup untuk menutup buku tentang dirinya. Tapi cerita belum selesai di sana.
Real Madrid: Terlalu Sering di Bangku Cadangan
Di Real Madrid, Owen tidak pernah benar-benar menemukan tempat. Ia datang ke klub terbesar di dunia dan berakhir lebih sering duduk daripada bermain. Satu musim yang tidak berkesan membuat ia hengkang, dan suporter Madrid tidak punya alasan kuat untuk mengingatnya dengan hangat. Bukan kebencian aktif, tapi ketidakpedulian yang hampir sama menyakitkannya bagi seorang pemain.
Newcastle: Bintang yang Tidak Mau Berkomitmen
Kepindahannya ke Newcastle seharusnya menjadi titik balik. Ia kembali ke Premier League, bergabung dengan klub yang sangat membutuhkan pemain berkualitas di lini depan. Awalnya ada antusiasme. Namun Owen tidak pernah benar-benar menunjukkan komitmen penuh terhadap proyek Newcastle. Cedera menghantui kariernya di sana, dan yang lebih penting, sinyal-sinyal yang ia kirimkan kepada publik tidak pernah terasa seperti seorang pemain yang benar-benar ingin berada di St. James' Park untuk jangka panjang.
Ketika kontraknya habis, ia pergi ke Manchester United. Bagi suporter Newcastle, itu adalah pengkhianatan dalam bentuk paling telanjang.
Manchester United: Puncak dari Semua Kesalahan
Pindah ke Manchester United adalah keputusan yang, dari sudut pandang hubungan publik, sulit dipahami. Owen bukan lagi pemain yang sama dengan yang pernah mengguncang Eropa. Ia datang sebagai pelapis, bukan bintang. Suporter United tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai bagian dari identitas klub, sementara suporter Liverpool, Newcastle, dan hampir semua orang di luar Old Trafford melihat kepindahan itu sebagai konfirmasi dari semua kecurigaan mereka tentang karakternya.
Ia mencetak beberapa gol untuk United, termasuk satu yang cukup dramatis melawan Manchester City, tapi itu tidak cukup untuk membangun warisan apa pun di sana.
Stoke City dan Akhir yang Senyap
Karier Owen berakhir di Stoke City, tempat di mana ia tidak sempat meninggalkan kesan apa pun, baik positif maupun negatif. Itu adalah penutup yang sangat datar untuk seseorang yang pernah menjadi salah satu penyerang paling berbahaya di dunia.
Mengapa Ini Terjadi?
Pola ini bukan sekadar soal keputusan transfer. Ada beberapa faktor yang saling bertumpuk.
Pertama, Owen selalu terlihat memprioritaskan kepentingan pribadi di atas loyalitas kepada klub. Itu bukan kejahatan dalam sepak bola modern, tapi cara ia melakukannya, tanpa banyak komunikasi yang terasa tulus kepada suporter, membuat setiap kepergiannya terasa seperti penolakan.
Kedua, cedera yang terus-menerus mengikisnya di tahun-tahun terbaiknya. Suporter bisa memaafkan pemain yang pergi jika ia sudah memberikan segalanya. Lebih sulit memaafkan pemain yang pergi setelah memberikan separuh dari apa yang seharusnya bisa ia berikan.
Ketiga, dan ini mungkin yang paling menentukan, Owen tidak pernah tampak seperti orang yang peduli dengan persepsi publik. Ia membuat keputusan, melanjutkan hidup, dan tidak banyak berusaha menjembatani jarak antara dirinya dan basis suporter yang kecewa. Itu adalah pilihan yang sah, tapi konsekuensinya terakumulasi dari satu klub ke klub berikutnya.
Apakah Ini Benar-Benar Unik?
Ada pemain lain yang meninggalkan kenangan pahit di beberapa klub. Tapi Owen adalah kasus yang langka karena skalanya: hampir tidak ada satu pun klub lamanya yang basis suporternya berbicara tentang dirinya dengan kehangatan. Liverpool mengingat golnya tapi tidak memaafkan kepergiannya. Newcastle tidak melupakan kepindahannya ke United. United sendiri tidak pernah benar-benar membutuhkannya. Dan Real Madrid hampir tidak mengingatnya sama sekali.
Itulah yang membuat Owen berbeda dari kebanyakan pemain yang sekadar tidak populer: jangkauannya merata, dan tidak ada satu pun klub lama yang menjadi tempat ia bisa pulang.
Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.
Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.
Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.



Comments
Loading comments…