Flagside.football
Consegna Coppa Italia. Inter-Roma 11 05 2006 — Photo: oscar federico bodini from Milan, Italy via Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Photo: oscar federico bodini from Milan, Italy via Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Taman Kosong, Bakat Hilang: Krisis Sepak Bola Italia yang Dimulai dari Jalanan

Sepak bola Italia tidak sedang krisis karena taktik yang salah atau pelatih yang buruk. Krisis itu dimulai jauh lebih awal, di taman-taman yang kini sepi, di sore-sore yang dulu penuh anak-anak bermain sampai gelap. Mario Balotelli, salah satu pemain Italia paling berbakat dalam satu generasi terakhir, melihat akar masalahnya dengan sangat jelas: bukan di lapangan latihan, tapi di luar sana, di tempat bakat sesungguhnya dilahirkan.

By Jack Whitfield· Football desk·Published ·2 MIN READ

Jalanan sebagai sekolah pertama

Ada sesuatu yang tidak bisa diajarkan di sesi latihan terstruktur, dan itu adalah insting. Kemampuan membaca permainan, keberanian menghadapi lawan yang lebih besar, kreativitas dalam ruang sempit: semua itu lahir dari jam-jam bermain bebas di taman, di gang, di lapangan tanah yang tidak ada wasitnya.

Balotelli, yang mencetak 14 gol dari 36 penampilan bersama Azzurri, tahu persis dari mana kemampuannya berasal. Bukan dari sesi latihan dua kali seminggu, tapi dari tiga jam tambahan setiap hari di taman, yang terasa seperti bermain tapi sebenarnya adalah latihan paling keras yang pernah ada. Anak-anak bermain melawan yang lebih tua, lebih besar, lebih kuat. Tidak ada yang melindungi mereka. Mereka harus berkembang atau tersingkir.

Itulah sekolah pertama sepak bola Italia, dan sekolah itu kini tutup.

Apa yang berubah

Balotelli menunjuk tiga faktor yang saling terkait.

Pertama, teknologi. Komputer, ponsel, dan konsol game telah mengisi waktu luang anak-anak dengan cara yang jauh lebih pasif. Anak usia tujuh tahun hari ini mungkin bermain bola dua jam setiap tiga hari, dalam sesi terstruktur yang diawasi pelatih. Generasi sebelumnya punya sesi yang sama, ditambah tiga jam bermain bebas setiap hari.

Kedua, mentalitas orang tua. Ini yang lebih dalam dan lebih sulit diubah. Orang tua sekarang lebih protektif, lebih khawatir, lebih cenderung mengarahkan anak ke aktivitas yang terorganisir dan terpantau. Bermain bebas di taman sampai gelap, yang dulu normal, kini terasa seperti kelalaian.

Ketiga, dan ini yang paling halus: perbedaan antara menonton dan melakukan. Anak-anak hari ini menonton video Ronaldinho dan merasa seperti Ronaldinho. Generasi Balotelli merasa seperti Ronaldo karena mereka bisa benar-benar melakukan trik yang sama di taman. Inspirasi tanpa praktik tidak menghasilkan bakat.

Mengapa ini penting secara struktural

Sepak bola Italia sudah merasakan akibatnya di level tertinggi. Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia 2018, sebuah bencana yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern mereka. Pemain-pemain Italia di Serie A semakin sedikit mendapat menit bermain karena kalah bersaing dengan pemain asing. Akademi-akademi bekerja keras, tapi mereka tidak bisa menggantikan apa yang hilang di jalanan.

Masalahnya bukan sistem akademi Italia yang buruk. Masalahnya adalah fondasi yang seharusnya datang sebelum akademi sudah tidak ada lagi. Ketika seorang anak masuk akademi di usia delapan atau sembilan tahun, ia seharusnya sudah membawa ribuan jam bermain bebas di tubuhnya. Jam-jam itu yang membentuk intuisi. Tanpa itu, akademi sebaik apapun hanya mengajarkan teknik kepada tubuh yang belum punya insting.

Konteks yang lebih luas

Spanyol, Prancis, dan Jerman semuanya pernah melewati periode suram sebelum bangkit kembali. Siklus naik-turun adalah bagian normal dari sepak bola internasional.

Balotelli sendiri tidak putus asa. Ia percaya Italia akan bangkit, meski tidak segera: mungkin dalam dua atau tiga generasi ke depan. Perubahan budaya butuh waktu yang sama lamanya dengan masalah yang menciptakannya.

Yang bisa dilakukan

Solusinya tidak ada di ruang rapat federasi. Tidak ada regulasi yang bisa memerintahkan anak-anak untuk bermain di taman. Yang dibutuhkan adalah pergeseran budaya: orang tua yang membiarkan anak-anak mereka keluar, bermain bebas, kalah, menang, bertengkar, dan belajar sendiri.

Beberapa kota di Eropa sudah mencoba program yang mendorong bermain bebas terstruktur, bukan sesi latihan, tapi waktu bermain yang tidak diawasi dengan tujuan. Hasilnya menjanjikan, tapi skala yang dibutuhkan Italia jauh lebih besar dari sekadar program percontohan.

Taman-taman di Brescia kosong. Di sana seharusnya ada calon pemain terbaik Italia dua puluh tahun dari sekarang. Selama mereka masih di dalam rumah menatap layar, Azzurri akan terus menunggu.

Comments

Loading comments…

Share this story

Sepak bola Italia tidak sedang krisis karena taktik yang salah atau pelatih yang buruk. Krisis itu dimulai jauh lebih awal, di taman-taman yang kini sepi, di sore-sore yang dulu penuh anak-anak bermain sampai gelap.

MORNING BRIEF

The day's football, in your inbox at 7 AM. Nothing else.

Pick of the night's matches, what the transfer window's doing, and the one column you should read today. No ads. No tips. No operators.

One-click unsubscribe. We do not share emails.