
Dua cerita berbeda lahir dari Grup G Piala Dunia 2026 pada 27 Juni — satu tentang dominasi tanpa kompromi, satu lagi tentang mimpi yang runtuh di detik-detik terakhir. Belgia membantai Selandia Baru 5-1 dengan penampilan yang meyakinkan, sementara di pertandingan lain, Iran nyaris membalikkan nasib mereka sebelum gol injury time mereka dianulir karena offside — dan dengan itu, peluang lolos otomatis pun menguap.
Belgia tidak butuh waktu lama untuk menegaskan siapa yang berkuasa di Grup G. Kemenangan 5-1 atas Selandia Baru bukan sekadar hasil — itu adalah pernyataan. Menurut detikSport, Belgia sudah unggul sejak babak pertama dan tidak pernah benar-benar terancam sepanjang laga. Selandia Baru sempat mencetak satu gol, tapi itu hanya sekadar statistik hiburan di tengah malam yang panjang bagi mereka.
Finishing di puncak Grup G berarti Belgia kini melangkah ke fase gugur dengan momentum penuh. Mereka adalah tim yang tidak ingin ditemui siapapun di babak 16 besar — dan angka 5-1 itu akan membekas di benak calon lawan.
Sementara itu, di pertandingan yang jauh lebih menegangkan, Iran dan Mesir saling mengunci dalam skor 1-1 — hasil yang, selama hampir seluruh durasi laga, cukup untuk mengirim Iran ke fase berikutnya lewat jalur tim terbaik peringkat ketiga. Lalu datanglah momen itu.
Di injury time, Iran mencetak gol yang sempat membuat para pemain mereka berlari merayakan. Sesaat, skenario itu terasa nyata. Tapi wasit mengangkat bendera — offside. Menurut detikSport, penjelasan resmi menyebut ada pemain Iran yang berada dalam posisi tidak sah saat bola dimainkan. Gol dianulir. Skor tetap 1-1. Dan Iran kembali ke posisi yang membuat nasib mereka bergantung pada hasil tim-tim peringkat ketiga dari grup lain.
Iran tidak kalah malam itu. Tapi mereka juga belum tentu lolos. Itu mungkin perasaan paling menyiksa dalam sepak bola.
Belgia keluar sebagai juara grup, Mesir mengamankan tempat kedua dengan hasil imbang yang cukup. Iran tergantung di posisi ketiga — dan apakah itu cukup untuk membawa mereka ke babak 16 besar masih bergantung pada performa tim-tim ketiga dari grup lain, menurut laporan detikSport.
Selandia Baru pulang lebih awal. Tidak ada kejutan di sana — tapi mereka pergi dengan satu gol kenangan dari malam yang berat.
Itulah yang membuat fase grup Piala Dunia selalu memikat: dua pertandingan, empat tim, dan nasib yang ditentukan dalam hitungan menit. Belgia sudah menatap ke depan. Mesir bisa bernapas lega. Iran masih menunggu — dan menunggu dalam sepak bola adalah siksaan tersendiri.
Dua cerita berbeda lahir dari Grup G Piala Dunia 2026 pada 27 Juni — satu tentang dominasi tanpa kompromi, satu lagi tentang mimpi yang runtuh di detik-detik terakhir.
Sources
detikSport
Flagside articles are original write-ups synthesised from multiple sources. We cite every outlet that fed into the piece.
Pick of the night's matches, what the transfer window's doing, and the one column you should read today. No ads. No tips. No operators.
One-click unsubscribe. We do not share emails.
“Stays on World Cup — different angle, same beat.”
Não foi bonito, não foi dominante — mas foi suficiente. A Espanha avançou na Copa do Mundo 2026 com uma vitória sobre o Uruguai que vai ser lembrada por um único momento: Fernando Muslera, goleiro exp
“Stays on World Cup — different angle, same beat.”
Não foi bonito, não foi dominante — mas foi suficiente. A Espanha avançou na Copa do Mundo 2026 com uma vitória sobre o Uruguai que vai ser lembrada por um único momento: Fernando Muslera, goleiro exp