
Photo: detikSport
Duel paling bersejarah itu kembali
Kalau ada satu pertandingan yang bisa membuat seluruh dunia berhenti sejenak, ini dia — Argentina lawan Inggris, di semifinal Piala Dunia 2026. Menurut laporan detikSport, dua negara yang sudah saling meninggalkan luka dan kenangan selama empat dekade ini resmi dipertemukan kembali di turnamen terbesar planet ini. Sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu giliran.
Rivalitas yang tidak butuh pengantar
Tidak banyak duel di sepak bola yang membawa beban seberat ini. Argentina vs Inggris bukan sekadar dua tim kuat yang kebetulan bertemu — ini adalah pertemuan dua identitas sepak bola yang sudah terikat oleh momen-momen yang tidak bisa dihapus dari ingatan kolektif siapa pun yang mencintai olahraga ini.
Ketika nama kedua negara ini muncul di sisi yang sama bracket Piala Dunia 2026, reaksi pertama bukan soal formasi atau statistik. Reaksi pertama adalah: lagi.
1986: Momen yang mendefinisikan segalanya
Quarterfinal Piala Dunia 1986 di Mexico City adalah titik asal dari semua ini. Diego Maradona mencetak dua gol yang sampai hari ini masih diperdebatkan — satu dengan tangan, satu dengan kaki yang mungkin tidak akan pernah terulang. Argentina menang 2-1. Inggris pulang dengan pertanyaan yang tidak ada jawaban resminya.
Maladona menyebut gol pertamanya sebagai "la mano de Dios" — Tangan Tuhan. Inggris menyebutnya curang. Empat puluh tahun kemudian, tidak ada yang berubah pendapat.
1998 dan seterusnya: Luka yang terus menganga
Dua belas tahun kemudian di Saint-Étienne, babak 16 besar Piala Dunia 1998 menghadirkan drama baru. Michael Owen mencetak gol yang membuat dunia berdiri, Javier Zanetti menyamakan, David Beckham dikartu merah setelah menendang Diego Simeone — dan Inggris kalah adu penalti. Beckham pulang sebagai sasaran amarah seluruh negeri.
Di Piala Dunia 2002, keduanya bertemu lagi di fase grup. Beckham menebus dirinya sendiri lewat penalti. Inggris menang 1-0. Tapi itu hanya satu babak dalam cerita yang jauh lebih panjang.
Pada Piala Dunia 2026, tidak ada Maradona, tidak ada Beckham, tidak ada Owen. Tapi beban sejarah itu tidak ikut pensiun bersama mereka.
Semifinal: Panggung yang berbeda
Yang membuat pertemuan kali ini terasa berbeda adalah konteksnya — bukan lagi fase grup atau babak 16 besar. Ini semifinal. Satu langkah dari final. Kedua tim sudah melewati separuh turnamen untuk sampai di sini, dan sekarang harus melewati satu sama lain.
Inggris belum pernah juara dunia sejak 1966. Argentina terakhir mengangkat trofi di Qatar 2022, dengan Lionel Messi akhirnya menutup satu-satunya lubang besar dalam karier legendarisnya. Dua narasi yang sama-sama kuat, di satu panggung yang sama.
Satu hal yang pasti: pada 12 Juli 2026, tidak akan ada yang menyalakan TV untuk sekadar menonton sepak bola.
Sumber1 sumber
Redaksi Flagside baca setiap berita yang kami terbitkan. Kami kerja dari pers bola, tulis sendiri bukan cuma reprint, dan cek akurasi serta sumber setiap artikel. Semua outlet yang masuk ke berita ini tercantum di bawah Sumber.
Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.
Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.
Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325609/original/040210700_1756007602-takei.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9301647/original/016462900_1784508778-fuente.jpg)
Comments
Loading comments…