Flagside.football
Indonesia nomor dua di daftar buruk ASEAN — Photo: Biso via Wikimedia Commons (CC BY 3.0)

Photo: Biso via Wikimedia Commons (CC BY 3.0)

Indonesia nomor dua di daftar buruk ASEAN

Ada daftar yang tidak ingin ditempati siapa pun di urutan atas, dan menurut laporan detikSport yang mengutip data FIFA, Malaysia justru memimpinnya di kawasan ASEAN: jumlah kasus larangan registrasi pemain akibat tunggakan gaji tertinggi di Asia Tenggara. Indonesia, menurut laporan yang sama, duduk di peringkat kedua, sebuah posisi yang seharusnya bikin Liga 1 bertanya banyak hal pada dirinya sendiri.

Redaksi Flagside·Dipublikasikan ·2 MENIT BACA

Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja

FIFA memang punya mekanisme keras untuk klub yang menunggak gaji pemain: larangan registrasi. Begitu klub gagal membayar kewajiban finansial sesuai putusan, FIFA bisa membekukan hak klub untuk mendaftarkan pemain baru sampai utang itu diselesaikan. Sanksi ini langsung memukul daya saing tim di bursa transfer berikutnya, karena skuad yang paling butuh penguatan justru yang paling terkunci.

Malaysia tercatat sebagai pemegang jumlah kasus tertinggi di ASEAN untuk pelanggaran jenis ini, menurut laporan detikSport yang mengutip data FIFA. Indonesia menempel ketat di posisi kedua, dan angka ini menegaskan bahwa masalah tunggakan gaji sudah jadi pola yang berulang di kawasan ini, bukan sekadar kasus satu dua klub.

Kenapa ini soal struktural, bukan insiden

Larangan registrasi dari FIFA baru dijatuhkan setelah proses panjang: pemain mengadu, klub diberi kesempatan membayar, dan baru ketika itu diabaikan sanksi turun. Artinya, setiap kasus yang tercatat sebenarnya sudah melewati beberapa tahap peringatan sebelum berakhir di meja FIFA. Posisi kedua Indonesia di ASEAN menunjukkan betapa sering kasus semacam ini terjadi, cukup banyak untuk menumpuk jadi statistik regional yang mencolok.

Laporan detikSport hanya memuat data di level angka kasus antarnegara, mengutip FIFA tanpa menyertakan rincian klub mana saja di Liga 1 yang terdampak atau berapa banyak pemain yang menunggu gaji mereka dibayar. Tapi posisi runner-up itu sendiri cukup untuk jadi alarm bagi federasi dan operator liga domestik, karena setiap kasus yang sampai ke FIFA berarti ada pemain yang sudah lebih dulu gagal diselesaikan di level klub dan PSSI.

Dampaknya bukan cuma soal uang

Klub yang kena larangan registrasi otomatis kehilangan fleksibilitas di bursa transfer, tidak bisa mendatangkan pemain baru sampai utang lunas. Buat tim yang sedang berjuang di papan bawah klasemen, ini bisa jadi pukulan ganda: masalah finansial yang memicu sanksi, lalu sanksi itu sendiri yang bikin skuad makin sulit diperkuat. Bagi pemain, dampaknya lebih personal lagi, gaji yang telat berbulan-bulan berarti hidup yang tertunda.

Posisi Malaysia dan Indonesia di dua teratas daftar ini pantas jadi bahan diskusi serius di internal federasi masing-masing. Soal siapa klub yang bertanggung jawab, berapa pemain yang terdampak, dan langkah konkret apa yang diambil, itu semua masih jadi pekerjaan rumah yang belum terjawab di laporan ini, dan layak ditagih ke otoritas liga domestik.

YOUR CALL

Bisakah Liga 1 atasi masalah tunggakan gaji sebelum kasus bertambah?

Comments

Loading comments…

Share this story

Ada daftar yang tidak ingin ditempati siapa pun di urutan atas, dan menurut laporan detikSport yang mengutip data FIFA, Malaysia justru memimpinnya di kawasan ASEAN: jumlah kasus larangan registrasi pemain akibat…

Sumber1 sumber

Kami menyebutkan dan menautkan setiap media yang menjadi dasar artikel ini, dan menulis ulang liputan mereka dengan kata-kata kami sendiri, bukan menyalinnya.

BRIEF PAGI

Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.

Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.

Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.