Photo: Biso via Wikimedia Commons (CC BY 3.0)
Kenapa pemain muda butuh melek finansial
Gaji besar datang di usia belasan atau awal dua puluhan, lalu habis sebelum usia tiga puluh lima: pola ini bukan cerita baru di sepak bola Indonesia, dan sebuah diskusi yang diangkat detikSport soal literasi finansial pesepakbola muda kembali membuka luka lama yang jarang dibahas serius oleh klub maupun federasi.
Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja
Karier pemain sepak bola rata-rata berakhir jauh lebih cepat dibanding profesi lain. Cedera, penurunan performa, atau sekadar persaingan usia muda bisa memutus jalan seorang pemain sebelum dia sempat memikirkan apa yang terjadi setelah gantung sepatu. Masalahnya, banyak pesepakbola muda Indonesia masuk ke dunia profesional tanpa bekal dasar soal mengelola uang, apalagi merencanakan masa pensiun.
Gaji datang cepat, rencana jarang ada
Di usia yang sebagian besar orang masih kuliah atau baru mulai kerja kantoran, pemain muda di Liga 1 maupun Liga 2 sudah menerima gaji bulanan dengan nominal yang terasa besar untuk ukuran mereka. Tanpa pendampingan, uang itu gampang terserap ke gaya hidup, kendaraan, atau investasi dadakan yang tidak dipahami betul. detikSport menyoroti bahwa persoalan ini erat kaitannya dengan ketiadaan sistem yang menyiapkan pemain sejak awal karier, bukan semata soal kemauan individu.
Siapa yang seharusnya mengisi celah ini
Di liga-liga Eropa, klub-klub besar dan asosiasi pemain biasanya punya program edukasi finansial wajib, mulai dari sesi literasi dasar sampai pendampingan pensiun dini. Di Indonesia, sejauh ini belum ada program semacam itu dari PSSI, PT Liga Indonesia Baru, atau Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) yang banyak diberitakan ke publik. Akademi-akademi muda sudah punya kurikulum teknis dan fisik yang detail, sementara urusan uang nyaris selalu diserahkan ke insting pribadi pemain atau keluarganya.
Risiko nyata saat masa emas berakhir
Ketika seorang pemain berhenti bermain, baik karena cedera maupun usia, pendapatan rutin itu hilang seketika. Tanpa tabungan, investasi yang dipahami, atau rencana karier kedua, transisi ke kehidupan pasca-sepak bola bisa jadi periode paling rentan dalam hidup seorang mantan pemain. Diskusi semacam ini kerap muncul tiap kali ada cerita pensiun pemain yang berakhir sulit, meski jarang ada nama yang terungkap ke publik di Indonesia.
Langkah kecil yang bisa dimulai sekarang
Edukasi finansial tidak harus rumit untuk mulai berjalan. Sesi dasar soal menabung, memahami kontrak, dan mengenali investasi bodong saja sudah bisa jadi titik awal, dan klub maupun akademi punya akses langsung ke pemain muda setiap hari di tempat latihan. Idenya sudah ada, yang kurang adalah pihak yang mau menjadikannya program resmi, bukan sekadar wacana yang muncul sesekali di media.
Haruskah PSSI dan klub membuat program literasi finansial wajib untuk pemain muda?
Sumber1 sumber
Kami menyebutkan dan menautkan setiap media yang menjadi dasar artikel ini, dan menulis ulang liputan mereka dengan kata-kata kami sendiri, bukan menyalinnya.
Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.
Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.
Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.



Comments
Loading comments…