Flagside.football
Illustration: plain scarves hung over a barrier on an empty terrace, drawn in heavy ink over halftone texture.
AI illustration

Saat Cinta Klub Berubah Jadi Pembelaan Negara

Sejak 2008, identitas Manchester City melekat erat dengan Abu Dhabi United Group, kendaraan investasi keluarga penguasa Uni Emirat Arab. Ketika kasus 115 dakwaan pelanggaran financial fair play mengancam warisan trofi klub, sebagian fan tidak cuma membela tim, mereka membela negara pemiliknya.

Redaksi Flagside·Dipublikasikan ·2 MENIT BACA

Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja

Kepemilikan yang Tidak Pernah Sekadar Bisnis

Ketika Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan membeli Manchester City pada 2008, itu bukan transaksi biasa seperti Glazer di Manchester United atau Fenway Sports Group di Liverpool. Mansour adalah anggota keluarga kerajaan Abu Dhabi, dan uang yang mengalir ke City berasal dari kekayaan negara, bukan kantong pribadi pengusaha. Dari titik itu, nasib klub dan citra negara jadi satu paket. Setiap trofi yang diangkat di Etihad otomatis jadi bagian dari cerita besar yang ingin ditampilkan Abu Dhabi ke dunia.

Sportswashing Butuh Pembela, Bukan Cuma Penonton

Istilah sportswashing sudah lama dipakai untuk menjelaskan kenapa negara-negara kaya minyak membeli klub sepak bola: untuk mengalihkan sorotan dari catatan hak asasi manusia dan membangun citra lunak lewat olahraga. Tapi proyek semacam ini hanya berhasil kalau ada basis pendukung yang mau menormalisasi hubungan itu. Fan yang sudah bertahun-tahun menikmati trofi, pemain kelas dunia, dan status klub yang berubah total, punya kepentingan emosional untuk tidak mempertanyakan dari mana semua itu datang. Mengkritik pemilik terasa sama dengan mengkritik keberhasilan yang sudah mereka rayakan bertahun-tahun.

Sunk Cost dan Identitas yang Terlanjur Menyatu

Semakin lama sebuah hubungan berjalan, semakin mahal rasanya untuk mengakui ada yang salah di dalamnya. Fan yang sudah membela kepemilikan Abu Dhabi sejak awal, lewat era pra-Pep Guardiola yang penuh ejekan 'nouveau riche', sampai era dominasi penuh trofi, sudah menanamkan identitas pribadi ke narasi itu. Ketika muncul kritik terhadap rezim Abu Dhabi, baik soal hak asasi manusia maupun soal kasus finansial, sebagian dari mereka tidak memprosesnya sebagai kritik terhadap sebuah negara, melainkan sebagai serangan pribadi terhadap pilihan hidup mereka sebagai suporter.

Kasus 115 Dakwaan Mempertajam Garis Pertahanan

Kasus pelanggaran financial fair play yang membentang dari 2009 hingga 2018 membuat situasi ini makin runcing. Ketika Manchester City menegaskan keyakinan penuh bahwa mereka tidak bersalah, alih-alih mengambil jalan kooperatif seperti dilakukan Chelsea dalam kasus serupa, sebagian fan membaca ini bukan sebagai sengketa regulasi, tapi sebagai konspirasi liga Inggris dan media terhadap klub mereka. Narasi 'mereka menyerang kami karena iri' jauh lebih mudah diterima ketimbang mengakui ada pertanyaan sah soal bagaimana sponsor-sponsor besar klub terhubung dengan lingkaran pemilik yang sama.

Ketika Politik Lokal Ikut Bersuara

Dukungan publik dari figur politik di level lokal Manchester terhadap citra positif City, sekecil apa pun bentuknya, bisa memperkuat narasi pembelaan yang sudah dibangun fan sejak lama. Ketika tokoh dengan pengaruh nyata di ranah publik terlihat berpihak pada narasi baik klub, itu memberi sebagian fan rasa legitimasi tambahan untuk memperlakukan kritik terhadap Abu Dhabi sebagai sesuatu yang tidak perlu didengarkan, toh ada figur berwenang yang tampaknya sejalan dengan mereka.

Kenapa Ini Berbeda dari Fanatisme Klub Biasa

Setiap suporter punya bias membela klubnya sendiri, itu bagian normal dari sepak bola. Yang membuat kasus City unik adalah objek pembelaannya meluas melampaui sebelas pemain di lapangan, sampai ke entitas negara yang punya kepentingan geopolitik jauh di luar sepak bola. Saat sebagian fan mulai membantah laporan hak asasi manusia internasional atau meremehkan kritik terhadap struktur kepemilikan negara demi melindungi reputasi klub, mereka sebenarnya sudah berpindah peran, dari suporter menjadi juru bicara tidak resmi sebuah rezim. Pola ini lahir dari bertahun-tahun investasi emosional yang sengaja dibangun untuk tidak pernah dipertanyakan.

YOUR CALL

Akankah fan City terus membela kepemilikan Abu Dhabi meski kasus 115 dakwaan berlanjut?

Comments

Loading comments…

Share this story

Sejak 2008, identitas Manchester City melekat erat dengan Abu Dhabi United Group, kendaraan investasi keluarga penguasa Uni Emirat Arab. Ketika kasus 115 dakwaan pelanggaran financial fair play mengancam warisan trofi…

BRIEF PAGI

Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.

Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.

Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.