Photo: Quintinense via Wikimedia Commons (CC0)
Pele: Lebih dari Sekadar Mesin Gol
Pele terlalu sering dibicarakan hanya lewat jumlah golnya, padahal itu bukan bagian paling mengesankan dari permainannya. Posisi, kecerdasan membaca ruang, dan dampaknya terhadap rekan setim adalah alasan sebenarnya kenapa namanya masih relevan dalam perdebatan pemain terbaik sepanjang masa.
Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja
Bukan Nomor 9, Bukan Nomor 10
Salah satu kesalahpahaman terbesar soal Pele adalah menganggapnya murni penyerang tengah yang hidup dari insting mencetak gol. Faktanya, ia sendiri pernah menyebut peran favoritnya justru sedikit di belakang striker murni, bukan tepat di garis depan. Itu membuatnya sulit dikotakkan: terlalu produktif untuk disebut gelandang serang biasa, tapi terlalu sering turun membangun serangan untuk disebut striker konvensional. Ia bermain di area abu-abu yang baru dipahami modern football berpuluh tahun kemudian, saat peran false nine dan second striker jadi tren taktik.
Kecepatan yang Membuat Man-Marking Sia-Sia
Pendekatan untuk meredam Pele biasanya dua macam: kawal ketat satu lawan satu, atau turunkan blok rendah dan rapatkan ruang. Keduanya punya kelemahan yang sama. Kalau dikawal ketat, Pele punya ledakan kecepatan untuk lari ke ruang kosong di belakang pertahanan sebelum pemain yang menjaganya sempat bereaksi. Kalau lawan memilih bertahan dalam dan menutup ruang, ia tetap bisa menyelesaikan sendiri dari jarak jauh dengan kedua kaki, atau menang duel udara. Final Piala Dunia 1970 melawan Italia jadi contoh paling terkenal: Pele yang sempat diragukan publik menjelang turnamen itu justru membuka skor lewat sundulan ikonik, lalu mengasistensi gol Jairzinho dengan kepala juga. Momen itu merangkum semuanya dalam satu pertandingan: kaki kanan, kaki kiri, kepala, dan kecerdasan membaca ruang sekaligus.
Satu-satunya Celah: Operan Jarak Jauh
Kalau harus mencari kelemahan, area di mana Pele tidak menonjol dibanding sejumlah nama besar lain adalah umpan terobosan jarak jauh gaya Kevin De Bruyne, Michel Platini, atau Andrea Pirlo. Tapi itu bukan kekurangan besar mengingat betapa lengkapnya paket lain yang ia bawa ke lapangan, dari kontrol bola, dribel, hingga kontribusi bertahan yang diperkirakan setara pemain modern seperti Thomas Muller dalam intensitas pressing dan membaca ruang lawan.
Efek yang Ia Berikan ke Rekan Setim
Yang membedakan Pele dari banyak bintang besar lain adalah bagaimana rekan setimnya justru tampil lebih baik di sampingnya, bukan lebih kecil. Jairzinho dan Rivellino mencapai level terbaik karier mereka saat bermain bersama Pele di timnas Brasil, dan tak pernah lagi menyentuh ketinggian yang sama setelahnya. Ini berbeda dengan pola umum di sepak bola elite, di mana pemain bintang besar justru menyedot ruang dan bola sehingga rekan setim harus mengorbankan perannya demi membiarkan sang bintang bersinar. Penjelasannya sederhana: Pele adalah salah satu pemain paling cerdas membaca ruang dalam sejarah olahraga ini, sehingga ia tidak butuh terlalu banyak perlindungan taktik dari sistem. Itu menyisakan ruang ekstra bagi rekan-rekannya untuk berkembang.
Angka yang Lebih Bicara dari Gol
Statistik paling mengesankan dari karier Pele bukan soal gol atau assist, melainkan rasio kemenangan. Dari sekitar 851 pertandingan kompetitif sepanjang kariernya, ia diperkirakan hanya kalah 145 kali, yang berarti peluang timnya untuk tidak kalah mencapai sekitar 83 persen. Lebih jauh lagi, tim yang diperkuat Pele diperkirakan punya peluang sekitar 51,1 persen untuk pulang membawa trofi, hampir seperti lemparan koin yang selalu berpihak padanya. Angka ini lebih berat ketika diingat bahwa Santos sebelum era Pele bukan klub sebesar yang ia bantu bangun, dan performa Brasil nyata-nyata menurun saat ia absen karena cedera di beberapa turnamen.
Mitos "Tidak Pernah Main di Eropa"
Salah satu kritik paling sering muncul adalah Pele tak pernah membuktikan diri di liga Eropa. Faktanya, ia memang tidak pernah berkarier reguler di sana, tapi catatannya dalam laga-laga melawan klub Eropa, diperkirakan sekitar 143 pertandingan dengan 153 gol dan 39 assist, menunjukkan ia tetap dominan setiap kali berhadapan dengan level kompetisi itu. Alih-alih jadi celah dalam argumen GOAT, absensinya dari liga Eropa justru lebih pantas dibaca sebagai keberuntungan bagi lawan-lawannya di benua itu, bukan kelemahan dalam resumenya.
Apakah Pele seharusnya diingat lebih banyak karena peran dan kecerdasannya daripada jumlah golnya?
Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.
Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.
Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.

Comments
Loading comments…