
Mimpi Satu Langganan Premier League, Kenapa Tak Terwujud
Tidak ada satu paket langganan yang memberi akses penuh ke seluruh laga Liga Premier, dan itu bukan kebetulan. Strukturnya memang dirancang begitu, karena model yang menyebalkan bagi penonton ini justru yang paling menguntungkan bagi liga dan para broadcaster.
Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja
Masalahnya bukan teknologi, tapi uang
Di tahun 2026, secara teknis sangat mudah membuat satu platform streaming yang menyiarkan seluruh laga Liga Premier dalam satu paket berlangganan. NBA sudah melakukannya belasan tahun lalu lewat League Pass. Tapi Liga Premier tidak menjual hak siarnya sebagai satu paket utuh. Liga memecah haknya menjadi beberapa paket berbeda dan melelangnya terpisah ke Sky, TNT Sports, dan Amazon untuk pasar Inggris, dengan skema serupa untuk pasar internasional lewat broadcaster lokal masing-masing negara.
Kenapa dipecah-pecah sengaja
Alasan di balik ini sederhana: kompetisi di antara broadcaster mendongkrak harga. Kalau hanya ada satu pemenang lelang untuk seluruh paket, nilainya akan jauh lebih rendah dibanding ketika tiga atau empat raksasa media saling bersaing memperebutkan potongan-potongan berbeda. Sky mau bayar mahal untuk laga-laga tertentu, Amazon untuk laga lain, TNT untuk sisanya, dan totalnya jauh melampaui apa yang bisa didapat liga dari satu kontrak tunggal. Fragmentasi ini bukan kecelakaan desain, melainkan strategi memaksimalkan pendapatan hak siar yang kemudian dibagi ke 20 klub peserta.
Blackout jam 3 sore sebagai lapisan tambahan
Di atas fragmentasi broadcaster, masih ada aturan blackout pukul 15.00 waktu Inggris, yang melarang penyiaran laga domestik pada slot waktu tersebut demi melindungi kehadiran penonton di stadion-stadion liga bawah. Aturan ini sudah ada sejak lama dan tidak akan hilang, apa pun yang terjadi dengan skema penyiaran lainnya. Jadi bahkan kalau semua hak siar disatukan di satu platform, sebagian laga tetap tidak akan bisa ditonton secara legal lewat siaran langsung.
Fans internasional menanggung beban yang sama
Untuk penonton di luar Inggris, masalahnya berlipat ganda karena setiap negara punya broadcaster lokalnya sendiri yang memenangkan hak siar lewat proses lelang terpisah dari pasar domestik Inggris. Artinya penggemar di satu negara mungkin butuh dua langganan berbeda, sementara penggemar di negara lain butuh tiga, tergantung bagaimana haknya dijual di pasar masing-masing. Tidak ada standar global, karena tidak ada insentif bagi liga untuk menciptakannya selama model lelang terpisah ini tetap menghasilkan uang lebih banyak.
Kenapa fans dibiarkan frustrasi
Liga Premier sadar betul model ini menyebalkan buat penonton biasa. Tapi penonton biasa bukan yang menentukan nilai kontrak hak siar, broadcaster besarlah yang menentukan, dan mereka membayar mahal justru karena eksklusivitas itu punya nilai kompetitif. Kalau semua laga ada di satu tempat, tidak ada alasan bagi Sky atau Amazon untuk bersaing keras merebut slot tayang, dan itu berarti pendapatan liga turun. Jadi selama 20 klub lebih diuntungkan secara finansial oleh fragmentasi dibanding oleh kenyamanan penonton, situasi ini tidak akan berubah.
Dampaknya ke arah yang tidak diinginkan siapa pun
Ironisnya, kerumitan ini justru mendorong sebagian penonton ke arah firestick ilegal dan situs streaming bajakan, sesuatu yang secara teori merugikan pendapatan liga itu sendiri dalam jangka panjang. Tapi selama kalkulasi jangka pendek dari lelang hak siar terpisah masih menguntungkan, tidak ada tekanan nyata dari dalam industri untuk menyederhanakan sistem ini menjadi satu paket langganan seperti yang diinginkan kebanyakan fans.
Akankah Premier League akhirnya menyatukan semua haknya dalam satu paket langganan?
Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.
Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.
Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.

Comments
Loading comments…