Flagside.football
Eks bek Spurs ini mau jadi presiden FIFA — photo: goal.com

Photo: goal.com

Eks bek Spurs ini mau jadi presiden FIFA

Ramon Vega tidak pernah jadi nama besar di lapangan Premier League dulu, tapi dia baru saja membuat langkah yang jauh lebih berani daripada tekel mana pun yang pernah dia lakukan: maju sebagai calon presiden FIFA, langsung menantang Gianni Infantino di pemilihan 2026.

Redaksi Flagside·Dipublikasikan ·2 MENIT BACA

Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja

Vega, yang membela Tottenham Hotspur pada era 1990-an sebelum menutup karier bermainnya dan beralih ke dunia bisnis olahraga, mengumumkan pencalonannya secara resmi, menurut detikSport. Tidak ada rincian soal platform kampanyenya, tim di belakangnya, atau bagaimana dia berencana mengumpulkan dukungan dari federasi-federasi anggota FIFA yang punya hak suara. Yang ada hanya satu fakta telanjang: seorang eks pemain sepak bola profesional sekarang resmi berada di arena yang selama ini didominasi birokrat dan politisi olahraga.

Kenapa ini jadi menarik

Infantino sudah memimpin FIFA sejak 2016 dan selama itu belum pernah benar-benar dihadapkan tantangan serius dari dalam lingkaran sepak bola itu sendiri. Kritik terhadapnya biasanya datang dari media, mantan eksekutif, atau asosiasi pemain, bukan dari kandidat yang berani memasang nama di kertas suara. Vega mengubah itu, setidaknya di atas kertas.

Masalahnya, mengumumkan pencalonan dan benar-benar punya jalan menuju kursi presiden adalah dua hal yang jauh berbeda. Pemilihan presiden FIFA bukan soal siapa paling populer di kalangan suporter, melainkan soal berapa banyak federasi nasional yang bisa diyakinkan untuk memberi suara. Infantino membangun jaringan itu selama hampir satu dekade lewat distribusi dana pembangunan dan proyek-proyek turnamen yang menguntungkan federasi kecil.

Sinyal, bukan jawaban

Yang bisa dibaca dari langkah Vega bukan soal peluangnya menang, melainkan soal apa yang mendorongnya maju. Ketika seorang mantan pemain merasa perlu turun tangan langsung ke politik federasi, itu biasanya mencerminkan ada ketidakpuasan yang tidak terwadahi lewat jalur normal, entah soal transparansi keuangan FIFA, format kompetisi yang terus membengkak, atau rasa bahwa suara pemain dan eks pemain diabaikan dalam pengambilan keputusan besar.

Tapi tanpa platform yang jelas atau respons resmi dari kubu Infantino, sulit menilai apakah ini tantangan yang serius atau sekadar gestur simbolis. detikSport sejauh ini hanya melaporkan pengumumannya, tanpa detail lebih jauh soal visi Vega untuk FIFA atau bagaimana dia akan membiayai kampanyenya di tengah federasi-federasi yang sudah terbiasa dengan status quo.

Yang perlu diperhatikan selanjutnya

Langkah formal berikutnya ada di tangan FIFA sendiri: setiap kandidat presiden harus mendapat dukungan tertulis dari minimal lima asosiasi anggota sebelum masa pencalonan ditutup, sesuai statuta FIFA. Sejauh ini belum ada konfirmasi dari FIFA soal nama Vega masuk daftar kandidat resmi, dan detikSport pun belum melaporkan satu pun federasi yang menyatakan dukungan untuknya. Itu yang akan menentukan apakah pencalonan ini berlanjut ke pemilihan 2026 atau berhenti di tahap deklarasi.

YOUR CALL

Akankah Vega berhasil mengumpulkan lima dukungan federasi untuk jadi kandidat resmi?

Comments

Loading comments…

Share this story

Ramon Vega tidak pernah jadi nama besar di lapangan Premier League dulu, tapi dia baru saja membuat langkah yang jauh lebih berani daripada tekel mana pun yang pernah dia lakukan: maju sebagai calon presiden FIFA,…

Sumber1 sumber

Kami menyebutkan dan menautkan setiap media yang menjadi dasar artikel ini, dan menulis ulang liputan mereka dengan kata-kata kami sendiri, bukan menyalinnya.

BRIEF PAGI

Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.

Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.

Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.