
Shinji Okazaki: Juara Liga Inggris yang Pudar
Ada musim-musim yang mengubah cara dunia memandang seorang pemain, dan 2015-16 adalah musim itu bagi Shinji Okazaki. Penyerang asal Jepang ini bukan hanya bagian dari skuad Leicester City yang membuat sejarah, ia mencetak gol-gol penentu di saat-saat krusial. Namun seperti banyak kisah dongeng, bab berikutnya tidak semanis itu.
Ditulis dengan AI dan diperiksa secara otomatis sebelum diterbitkan. Cara kami bekerja
Musim yang Mengubah Segalanya
Shinji Okazaki bergabung dengan Leicester City pada Juni 2015 dengan harga sekitar £7 juta, setelah membangun reputasi solid di Bundesliga bersama VfB Stuttgart dan Mainz 05. Namun tak ada yang menyangka musim pertamanya di Inggris akan menjadi salah satu musim paling berkesan dalam sejarah Premier League.
Okazaki langsung mencetak gol pada pekan kedua melawan West Ham United, lalu menjadi pahlawan dengan gol kemenangan di Goodison Park melawan Everton pada 19 Desember 2015 yang membawa Leicester memuncaki klasemen saat Natal. Ia juga menyumbang gol penting di FA Cup melawan Tottenham Hotspur, dan pada Maret 2016 mencetak gol tendangan salto spektakuler melawan Newcastle United yang membawa Leicester unggul lima poin di puncak klasemen.
Leicester City akhirnya menjuarai Premier League musim itu, salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris. Okazaki menjadi pemain Jepang kedua yang meraih gelar Premier League setelah Shinji Kagawa. Penampilannya sepanjang musim itu diganjar penghargaan Asian International Player of the Year pada Desember 2016.
Setelah Puncak
Musim berikutnya, 2016-17, performa Okazaki menurun tajam. Ia hanya mencetak tiga gol di liga sepanjang musim, jauh dari kontribusinya di musim juara, meski sempat mencetak dua gol dalam kekalahan dari Chelsea di EFL Cup dan satu gol di fase grup Liga Champions melawan Club Brugge, menjadikannya pencetak gol Jepang pertama di kompetisi itu sejak Keisuke Honda.
Ia sempat tampil produktif di awal musim 2017-18 dengan empat gol dalam enam penampilan di semua kompetisi, namun Leicester akhirnya melepasnya di akhir musim 2018-19.
Kepindahannya ke Málaga CF pada Juli 2019 berumur sangat pendek: kontraknya dibatalkan hanya 34 hari kemudian karena permintaan gajinya melebihi anggaran maksimum yang diizinkan liga. Ia kemudian bergabung dengan Huesca di Segunda División sebagai pemain bebas transfer pada September 2019, dan justru menemukan kembali ketajamannya dengan mencetak 12 gol membantu klub itu promosi ke La Liga.
Setelah itu, Okazaki berpindah ke FC Cartagena pada 2021, lalu ke Sint-Truiden di Belgia pada Agustus 2022. Pada Februari 2024, ia mengumumkan akan pensiun di akhir musim 2023-24.
Warisan di Luar Lapangan
Saat masih membela Mainz 05, Okazaki turut mendirikan klub sepak bola Basara Mainz pada musim 2014-15, yang kini ia layani sebagai penasihat klub. Klub tersebut dimulai dari divisi terbawah sistem liga Jerman dan berhasil promosi hingga tingkat keenam pada 2019.
Di level internasional, Okazaki mengakhiri kariernya bersama timnas Jepang sebagai pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang masa dengan 50 gol, termasuk gelar Piala Asia 2011 dan penampilan di tiga Piala Dunia.
Apakah Okazaki akan dikenang sebagai legenda Leicester atau hanya sebagai bintang musiman?
Sumber2 sumber
Wikipedia (id), Wikipedia (en), Wikipedia (id)
Kami menyebutkan dan menautkan setiap media yang menjadi dasar artikel ini, dan menulis ulang liputan mereka dengan kata-kata kami sendiri, bukan menyalinnya.
Bola hari ini, di inbox jam 7 pagi. Cuma itu.
Pilihan pertandingan malam, apa yang lagi terjadi di transfer window, dan satu kolom yang harus dibaca hari ini. Tanpa iklan. Tanpa tips. Tanpa operator.
Unsubscribe sekali klik. Kami tidak bagikan email.

Comments
Loading comments…